Persaingan Wisata Bahari Semakin Ketat, Akses ke Tanjung Benoa Harus Jadi Perhatian

gallery_laskar pelangi11Beberapa wisatawan Tiongkok tampak mendominasi kunjungan di kawasan wisata bahari Pantai Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung, Bali, Rabu (5/7/2017) siang.Meski terik, mereka antusias menikmati berbagai aktivitas olahraga air seperti parasailing, flying fish, rolling donut, snorkeling, ataupun banana boat.Antonie Kepi, pengusaha water sport di kawasan tersebut mengatakan, parasailing masih menjadi favorit di antara wahana water sport lainnya.Antonie mengatakan, semua usaha water sport di Tanjung Benoa dikelola oleh perseorangan dan pemiliknya kebanyakan warga asli Tanjung Benoa. Soal harga disesuaikan dengan kesepakatan kerjasama antara pengusaha dan travel agent.”Biasanya 70 dolar (USD) untuk wisatawan asing dan Rp 600 ribu sampai Rp 650 ribu untuk wisatawan domestik,” ujar Antonie.

Saat ini, wisata bahari termasuk water sport mengalami persaingan yang cukup ketat.

Hal itu diungkapkan Ketua Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) Badung, Nyoman Wana Putra.

Dia menyatakan, beberapa kabupaten di Bali juga sudah mengembangkan water sport sebagai daya tarik wisata seperti Denpasar di Pantai Sanur, Klungkung di Nusa Penida, dan Buleleng juga mulai mengembangkan water sport.

“Untuk di Bali sendiri, persaingan water sport sudah hampir merata. Padahal, dulu semua wisatawan yang ingin menikmati water sport datangnya hanya ke Tanjung Benoa,” ucap Putra.Bukan hanya di Bali, atraksi wisata bahari juga mulai dikembangkan di beberapa daerah di wilayah timur Indonesia. Hal itu turut menyebabkan persaingan usaha wisata ini semakin ketat.

“Itu menjadi tantangan tersendiri. Kita perlu mengembangkan inovasi-inovasi baru untuk bisa bersaing,” imbuh Putra.

Putra menambahkan, agar atraksi wisata water sport di Tanjung Benoa tetap eksis, perlu adanya perhatian dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah pusat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


two + 7 =